Teman, jangan jadikan keluhan sebagai salah satu tameng dalam hidup kita. Hidup ini bukan taman yang penuh bunga harum dan jalan datar tanpa rintangan. Ia adalah medan perjuangan—penuh peluh, luka, dan pengorbanan.
Dari awal bangun hingga kembali tidur, manusia berhadapan dengan ujian: lelahnya kerja, sempitnya rezeki, rumitnya urusan keluarga, dan kerasnya dunia luar.
Namun, jangan jadikan keluhan sebagai bahasa utama dalam hidupmu. Sebab, terlalu banyak mengeluh hanya akan memperberat jiwa dan menutup mata dari nikmat yang tersembunyi.
Seorang hamba yang mengeluh seakan-akan sedang berkata kepada Allah: “Kenapa hidupku tidak seperti yang kuinginkan?” Padahal, semua yang terjadi adalah bagian dari qadar-Nya, yang pasti mengandung hikmah dan pelajaran.
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak ada sesuatu yang paling berbahaya bagi hati dibanding keluhan yang terus-menerus. Karena itu melemahkan sabar, menghilangkan syukur, dan membuka pintu keberatan terhadap takdir.”
Ulama salaf dahulu sangat menjaga lisannya dari keluhan. Mereka tahu bahwa dunia memang tempat ujian, bukan tempat kenikmatan abadi.
Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah pernah berkata, “Bagaimana mungkin engkau berharap kehidupan yang nyaman, sementara Nabi Muhammad ﷺ saja seringkali tidur dalam keadaan lapar?” Ini bukan seruan untuk pasrah tanpa usaha, melainkan seruan untuk ridha dan bersabar dalam setiap kondisi.
Teman, bukan berarti kita nggak boleh mengungkapkan kesulitan, tetapi curhatlah kepada Allah, bukan kepada manusia. Seperti perkataan Nabi Ya’qub dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesusahan dan kesedihanku kepada Allah.” (QS. Yusuf: 86).
Inilah adab para nabi dan orang-orang saleh; mereka tahu bahwa yang bisa mengubah keadaan hanyalah Allah, bukan manusia yang hanya bisa mendengar dan membalas dengan simpati kosong.
Hidup emang ga mudah, dan ga akan pernah menjadi mudah. Tetapi bukan berarti kita harus merintih setiap waktu. Ada pahala dalam diam yang sabar, ada kekuatan dalam senyap yang penuh tawakal.
Maka, jangan penuhi hidupmu dengan keluhan. Penuhilah dengan syukur, sabar, dan doa. Karena Allah ga menilai siapa yang paling banyak bersuara, tapi siapa yang paling kuat bertahan dalam diamnya.

