banner 130x650

Dosen Harus Naik Level di Era AI, Jika Tak Upskilling, Kampus Bisa Tertinggal

Dosen

Perkembangan pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) memaksa dunia pendidikan tinggi beradaptasi cepat. Tanpa upaya peningkatan kapasitas diri (upskilling), penguatan keterampilan (reskilling), serta penguasaan teknologi baru, institusi pendidikan dan tenaga pendidik terancam tertinggal oleh laju perubahan zaman.

Tenaga pendidik di Universitas Muhammadiyah Sampit, M. Azharul Hadi, menilai pendidikan ibarat eskalator yang terus bergerak. Siapa pun yang berhenti melangkah akan tertinggal.

“Kalau kita tidak melakukan upskilling, reskilling, dan menguasai keterampilan baru, kita akan tertinggal. Pendidikan itu seperti eskalator untuk meningkatkan kapasitas diri. Agar tetap relevan, kita harus terus meng-upgrade diri, baik melalui jalur akademik maupun non-akademik,” ujarnya, Senin (2/3/2026).

Menurut Azharul, transformasi digital juga membuka akses belajar yang jauh lebih luas. Tenaga pendidik dan mahasiswa kini dapat memperkaya kompetensi melalui kelas daring, webinar, hingga platform pembelajaran berbasis streaming.

“Sekarang ilmunya bisa diakses lewat digital. Kita bisa ikut kelas-kelas online, pelatihan virtual, bahkan sertifikasi internasional tanpa harus meninggalkan tempat tinggal. Ini peluang besar kalau dimanfaatkan dengan serius,” tambahnya.

Di era AI, peran dosen tidak lagi sebatas penyampai materi (transmitter of knowledge), melainkan bertransformasi menjadi perancang pengalaman belajar (learning experience designer), mentor, sekaligus fasilitator yang menumbuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi mahasiswa. AI diposisikan sebagai asisten yang meningkatkan produktivitas, sementara dosen tetap memegang kendali pada aspek kemanusiaan, etika, dan kreativitas.

BACA JUGA :  Nahkan!!! Hasil Tes Urine 2 ASN dan 3 Tekon di Parenggean Ternyata Positif

Sejumlah peran strategis dosen di era kecerdasan buatan kini semakin menonjol yaitu:

 1. Fasilitator Berpikir Kritis dan Kreatif

AI mampu menjawab pertanyaan teknis, namun dosen berperan membimbing mahasiswa menyusun pertanyaan yang tepat, menganalisis kebenaran informasi, serta menyintesis hasil AI secara kritis dan etis. Mahasiswa didorong tidak sekadar menyalin jawaban AI, melainkan memahami proses berpikir di baliknya.

2. Perancang Pengalaman Belajar (Learning Experience Designer)

Dosen merancang kurikulum dan metode pembelajaran yang mengintegrasikan AI secara cerdas. Teknologi dimanfaatkan untuk mempercepat penyusunan bahan ajar dan perangkat pembelajaran, sehingga waktu dosen lebih banyak tercurah pada interaksi mendalam dengan mahasiswa.

3. Mentor Karakter dan Pembimbing Etika

AI tidak memiliki nurani, empati, maupun konteks nilai budaya. Dosen berperan membentuk karakter, membimbing pengambilan keputusan di dunia nyata, serta menanamkan etika penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.

BACA JUGA :  Memukau! 2 Dosen Cantik STKIP Muhammadiyah Sampit Berhasil Selesaikan Penelitian

4. Kurator dan Verifikator Informasi

Di tengah banjir konten digital, dosen bertugas memastikan materi yang digunakan akurat, relevan, dan berkualitas. Hasil keluaran AI perlu diverifikasi agar tidak menyesatkan atau bias.

5. Penggerak Inovasi dan Riset

AI membantu dosen menganalisis data penelitian, mempercepat pencarian referensi, hingga meningkatkan produktivitas publikasi ilmiah. Hal ini mendorong penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

6. Penilai Proses, Bukan Sekadar Hasil

Evaluasi pembelajaran tidak lagi hanya berfokus pada output akhir tugas, tetapi pada proses berpikir, kejujuran akademik, dan kemampuan mahasiswa memecahkan masalah secara mandiri.

Azharul menegaskan, dosen yang tidak akan tergantikan oleh teknologi adalah mereka yang terus memperbarui diri, mampu menginspirasi, serta membangun hubungan emosional dan interpersonal yang kuat dengan mahasiswa.

“Teknologi bisa membantu, tapi sentuhan kemanusiaan, keteladanan, dan inspirasi dari dosen itu tidak bisa digantikan mesin. Itu kunci agar pendidikan tetap bermakna di era AI,” pungkasnya.


Eksplorasi konten lain dari MentayaNet

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

You cannot copy content of this page

Eksplorasi konten lain dari MentayaNet

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca