Bubur Karuang makanan khas tradisional ini pastinya tidak asing lagi di lidah masyarakat Kalimantan. Rasanya yang manis, gurih serta lembut, menjadikan makanan ini selalu menjadi buruan warga, terutama pada bulan suci ramadan ini.
Idar merupakan pemilik warung Mama Ofiq, di Jalan Juanda Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur ini, salah satu pedagang yang rutin setiap tahunnya di bulan suci ramadan menjual bubur karuang makanan khas tradisional Kalimantan Selatan.
Dalam sehari dirinya memasak bubur sebanyak tiga panci berukuran besar seperti bubur Hintalu Karuang, kacang hijau serta kolak.
“Kalau dalam satu panci itu sekitar 50 kilogram, kacang hijau 5 kilogram dan Hintalu Karuang sebanyak 12 kilogram,” ungkap idar.
Setiap harinya hanya dalam waktu sekitar 2 sampai 3 jam, seluruh bubur tersebut selalu ludes terjual, jika terlambat pasti tidak kebagian.
Baca Juga : Kapan Pembangunan Mal Pelayanan Publik di Operasikan ?
Uniknya lagi, makanan yang disuguhkan semuanya masih fresh dan panas, karena langsung diambil didalam panci dengan kematangan yang merata.
“Kalau untuk bahan kuahnya cukup sederhana, menggunakan santan kelapa, gula merah, gula putih, garam. Semua bisa digunakan untuk Hintalu Karuang yang menggunakan bahan tepung ketan, kolak pakai pisang dan singkong, dan bubur kacang kita gunakan kacang hijau,” tuturnya.
Idar sendiri berjualan bubur Hintalu Karuang, kolak dan kacang hijau ini terbilang cukup lama, dan menjadi usaha musiman yang disuguhkannya setiap bulan ramadan.
“Sekitar 15 tahun kami menggeluti usaha bubur Hintalu Karuang ini, dan hanya ini kebiasaan kami kalau berjualan di bulan ramadan,” ujarnya.
Untuk harga tetap seperti yang dulu yakni Rp10.000,- meski saat ini kebutuhan bahan pokok cukup mahal.
Baca Juga : Siap-siap! Komisi IV DPRD Kotim : PBS Gunakan Jalan Umum Bakal Dipanggil
“Kita tetap pertahankan harga dan juga kualitas rasa tidak akan berubah,” ucapnya.
“Kami juga tidak pernah menghitung berapa porsi kalau seluruhnya habis, alhamdulillah kalau dibilang pendapatan cukup untuk menambah tabungan kami sekeluarga,” jawabnya dengan rendah hati.
Warung mama Ofiq selain bulan ramadan, dalam kesehariannya berjualan nasi kuning dan lontong, yang juga dikenal masyarakat kota Sampit.
“Kalau nasi kuning memang usaha kami dari awal membuka warung ini. Seiring perkembangan zaman, kami akan terus menjaga serta melestarikan makanan tradisional ini,” tutup Idar.
Eksplorasi konten lain dari MentayaNet
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.