banner 130x650

Dompet Petani Sawit Mendadak Tipis, Harga TBS Anjlok, Beban Hidup Makin Berat

Petani Sawit
Foto: ilustrasi

Baru panen, tapi uang yang didapat tak cukup buat beli beras sebulan. Itulah keluhan yang kini ramai diucapkan petani sawit di Kalimantan dan Sumatera. Penyebabnya sederhana, harga Tandan Buah Segar (TBS) anjlok tajam dalam sepekan terakhir.

Di Kotabesi, Ali yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidup dari kebun sawit, hanya bisa geleng-geleng kepala. Harga yang beberapa hari lalu masih Rp3.390 per kilogram, kini tinggal Rp2.520 bahkan ada yang menjual Rp.1.000 per kilogram.

“Turunnya cepat banget. Kami yang kecil ini langsung kerasa,” ujarnya saat ditemui di Jalan Jenderal Sudirman KM 65, Jumat lalu.

Yang bikin makin sesak, biaya hidup tak ikut turun. Ongkos angkut, upah buruh panen, pupuk, dan kebutuhan rumah tangga tetap jalan seperti biasa. Hasilnya, banyak petani mengaku kerja keras di kebun tapi pendapatan justru menyusut.

BACA JUGA :  Kelas Klinik Bisnis (KKB) Kembali Hadir Di Tahun Ke-2 Untuk Mitra & Pelaku UMKM Se-Indonesia!!!

Kondisi serupa juga dirasakan petani di Riau dan Sumatera Utara. Beberapa pabrik di sana bahkan mematok harga di bawah Rp2.600 per kilogram. Padahal perawatan kebun dan harga pupuk tak pernah murah.

Yang paling diinginkan petani saat ini bukan janji, tapi kejelasan. Mereka meminta perusahaan dan pemerintah membuka data soal bagaimana harga TBS ditetapkan di tingkat pabrik. Tanpa transparansi, petani merasa seperti main tebak-tebakan setiap kali panen.

“Kalau harga turun karena CPO dunia turun, kami paham. Tapi jelaskan. Jangan diam saja,” kata seorang petani di Seruyan.

Para petani berharap pemerintah segera turun tangan. Intervensi harga dan pengawasan di lapangan dinilai mendesak agar sektor sawit yang menopang ekonomi daerah tidak ambruk dari bawah.

BACA JUGA :  Hari Pers Sedunia: Pers adalah Pengawas, Pengingat dan Menjadi Suara Terakhir bagi Warga yang Merasa Tidak Didengar

Sebab bagi mereka, sawit bukan sekadar komoditas. Sawit adalah beras, sekolah anak, dan obat untuk orang tua. Kalau harga terus jatuh, yang goyah bukan hanya kebun, tapi seluruh rumah tangga petani.


Eksplorasi konten lain dari MentayaNet

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

You cannot copy content of this page

Eksplorasi konten lain dari MentayaNet

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca