Tren “Bed Rotting” atau rebahan berjam-jam di kasur sambil scroll media sosial kini makin banyak dilakukan generasi muda. Awalnya dianggap cara healing, tapi psikolog mengingatkan kebiasaan ini bisa jadi tanda awal depresi.
Bed rotting adalah kondisi seseorang menghabiskan waktu berjam-jam bahkan seharian di atas kasur. Aktivitasnya hanya scroll HP, nonton, atau melamun tanpa melakukan kegiatan produktif lain. Berbeda dengan istirahat biasa, bed rotting dilakukan untuk “melarikan diri” dari tekanan hidup dan rasa cemas.
Menurut psikolog, kalau dilakukan sesekali saat lelah itu wajar. Tapi kalau sudah jadi kebiasaan harian, menarik diri dari lingkungan, kehilangan motivasi, dan sulit tidur malam, itu sinyal bahaya.
“Ciri utamanya, rebahan bukan karena capek fisik, tapi capek mental. Orang jadi menghindari tanggung jawab, komunikasi sosial menurun, dan mood gampang drop,” jelas psikolog klinis.
Dampaknya bisa berantai. Kurang gerak bikin badan pegal, pola tidur berantakan, produktivitas turun, sampai muncul rasa bersalah karena “membuang waktu”. Lama-lama ini memperparah gejala depresi dan kecemasan.
Ahli menyarankan beberapa langkah untuk keluar dari siklus bed rotting:
1. Batasi screen time – Atur timer 30 menit sekali lalu bangun dari kasur
2. Gerak ringan – Cukup jalan 5 menit ke luar kamar atau stretching
3. Bangun rutinitas – Mandi dan ganti baju di pagi hari walau WFH
4. Cerita ke orang terdekat – Jangan dipendam sendiri
Kalau sudah merasa sedih berkepanjangan, kehilangan minat, dan gangguan tidur lebih dari 2 minggu, segera konsultasi ke psikolog atau psikiater. Itu langkah yang tepat, bukan lemah.
Jadi, rebahan boleh. Tapi jangan sampai kasur jadi “penjara” untuk lari dari masalah.
Eksplorasi konten lain dari MentayaNet
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















