Pemadaman listrik bergilir kembali melanda Kota Sampit dan Palangka Raya Minggu (26/7/2026) malam. Di tengah gelap gulita, gemuruh genset terdengar bersahutan dari ruko, kafe, hingga perumahan warga. Kota Mentaya Sampit dan Kota Cantik Palangka seketika berubah menjadi kota yang bising.
Dari pantauan di Jalan Gatot Subroto sekitarnya dan A. Yani, hampir setiap kafe dan minimarket menyalakan genset. Asap knalpot dan suara mesin diesel menjadi pemandangan umum sejak pukul 18.00 WIB.
“Dari jam 18.00 WIB mati. Kulkas es krim saya sudah mulai mencair. Kalau begini terus rugi bandar,” keluh Yeyen (32), pemilik warung di kawasan Gatot Subroto.
Kondisi ini bukan kejadian baru. Berdasarkan data PT PLN (Persero) UID Kalselteng, Kalimantan Tengah mengalami defisit daya sejak 30 Juni 2026 akibat kerusakan pada Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Bangkanai di Kabupaten Barito Utara, yang merupakan salah satu pemasok utama sistem interkoneksi Kalselteng.
PLN menyebut pemadaman bergilir 4-8 jam per hari terpaksa dilakukan untuk menjaga stabilitas sistem hingga perbaikan tuntas, yang diperkirakan baru akan normal pada akhir September 2026.
Namun warga menilai komunikasi PLN buruk. Jadwal pemadaman yang juga terjadi di Palangka Raya, menurut warga yang diumumkan melalui PLN Mobile sering tidak sesuai di lapangan.
“Bayar listrik tepat waktu, tapi dapatnya tidak pasti. Kami hanya minta jadwal yang jujur dan jelas, bukan janji-janji,” tukas salah seorang warga Palangka Raya.
Hingga berita ini diturunkan, PLN UP3 Palangka Raya belum memberikan keterangan resmi terkait jadwal padam untuk Minggu malam ini. Warga diimbau untuk mencabut peralatan elektronik saat padam untuk menghindari kerusakan akibat lonjakan tegangan saat listrik kembali menyala.
Eksplorasi konten lain dari MentayaNet
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















