banner 130x650
TAJUK  

Ketika Kotim Menjadi Kota Asap, Pemda Jangan Gagap Harus Tegas!

Asap

Langit Sampit menguning, matahari menjadi bola merah yang redup, abu dan bau asap menyengat masuk hingga ke dalam rumah bahkan kamar tidur. Kita kembali menjadi Kota Asap.

Data tidak pernah bohong. ISPU 187. Kategori Tidak Sehat. Artinya, setiap tarikan napas warga Kotim hari ini adalah menghirup racun. Tapi ironisnya, di tengah kondisi darurat ini, pemerintah kita justru terlihat paling santai.

Kita harus jujur mengatakan: Pemda Kotim Gagap menangani Karhutla.

Buktinya adalah Surat Edaran soal pendidikan. Alih-alih memerintahkan Belajar Dari Rumah (BDR) secara menyeluruh di Kotim, Pemda justru membuat SE karet: menyerahkan keputusan kepada kepala sekolah masing-masing. Ini bukan kebijakan, ini cara halus untuk lepas tanggung jawab.

Apa yang diharapkan dari kepala sekolah? Mereka berada di posisi dilematis. Jika meliburkan, takut disalahkan karena menghambat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Jika masuk, mereka yang harus menanggung dosa ketika murid-murid sesak napas. Pemda telah menempatkan kepala sekolah sebagai bemper, sementara Bupati dan Dinas terkait aman di balik meja ber-AC.

BACA JUGA :  Matinya Rasa Kemanusiaan, Dugaan Pelanggaran HAM Dukuh Bengkuang dan Diamnya Lembaga Daerah

Asap

Pertanyaannya: seharga itukah paru-paru anak kita?

Apakah sepiring MBG lebih penting daripada kesehatan jangka panjang generasi Kotim? MBG bisa ditunda sehari dua hari, tapi kerusakan paru-paru akibat ISPU 187 akan dibawa anak-anak kita seumur hidup. Jangan tukar masa depan mereka dengan seremoni program.

Tajuk ini mendesak dua hal yang tidak bisa ditawar lagi.

Pertama, Selamatkan Anak-Anak. Terbitkan SE baru hari ini juga. WAJIBKAN BDR selama status Tanggap Darurat dan ISPU di atas 100. Jangan beri ruang abu-abu. Tegas. Titik. Itu tugas negara melindungi warganya.

BACA JUGA :  Apa itu Hari Pers Nasional? Dicetuskan Karena Wartawan

Kedua, Jangan Lindungi Pembakar. Aparat Penegak Hukum harus menyelidiki setiap jengkal lahan korporasi yang terbakar. Jika ada unsur kesengajaan, pidanakan. Dan Pemda harus berani: bekukan izinnya. Jangan beri karpet merah kepada mereka yang membangun bisnis di atas asap dan air mata warga.

Sampit tidak butuh pemimpin yang pandai merangkai kata dalam surat edaran. Sampit butuh pemimpin yang berani mengambil keputusan tidak populer demi kesehatan rakyatnya.

Karena jika hari ini kita diam, besok bukan hanya hutan yang habis, tapi juga masa depan anak-anak Kotim yang kita bakar bersama-sama.


Eksplorasi konten lain dari MentayaNet

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

You cannot copy content of this page

Eksplorasi konten lain dari MentayaNet

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca