banner 130x650

Alumni ToT Angkatan 41 Lemhannas Siap Jadi Teladan

Oleh: Reno, S.Kom., M.I.Kom (Alumni ToT PPNK Angkatan 41)

Alumni ToT

Kawasan Lapangan Tembak Markas Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Selasa, 15 September 2026 kemarin mendadak heboh. Biasanya, markas baret jingga milik TNI AU ini tenang, tegap, dan penuh wibawa sebagai pusat komando, pengendalian, serta tempat latihan pasukan elit.

Tapi hari itu beda cerita. Markas Kopasgat malah “diserbu” oleh 102 orang dosen, guru, dan widyaiswara dari seluruh pelosok Indonesia. Ingat ya, 102 orang. Bukan cuma dua atau tiga orang yang nyasar mau numpang nanya alamat.

Mereka datang bukan buat ngajarin tentara metodologi atau bikin penelitian militer. Markas komando kebanggaan ini justru dipinjam buat arena mancakrida alias outbound.

Ini adalah acara penutup dari rangkaian Pelatihan untuk Pelatih / Training of Trainers (ToT) Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (PPNK) Angkatan 41 Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI yang sudah menggembleng kami sejak 7 September 2026.

Latar belakang pesertanya warna warni. Namanya juga acara pemantapan nilai kebangsaan, pesertanya dari Sabang sampai Merauke, dari pulau Miangas sampai pulau Rote dari bergelar Sarjana, Magister, Doktor, sampai Profesor yang rambutnya sudah memutih karena kebanyakan mikirin riset. Ada ASN, anggota TNI, sampai pegawai swasta. Tapi di sini, semua gelar ditinggal di pintu gerbang. Tekadnya cuma satu. menimba ilmu di lembaga paling prestisius, Lemhannas RI.

Cerita dimulai sejak pagi buta. Jam 04.30 WIB saya beranjak dari tempat tidur. Komando di titik kumpul ketat banget. Jangan sampai ada peserta yang tercecer atau tertinggal, apalagi ini hari terakhir. Warning dari panitia di WAG peserta jam 06.00 WIB sudah ada di Gedung Lemhannas. Tertinggal rombongan resiko sendiri. Seram juga Wak. Ya harus disiplin lah. Sesuai instruksi kami sudah berkumpul di depan Gedung Tri Gatra. Panitia menyiapkan 3 bus. Sebelum berangkat peserta melaksanakan tradisi yang tidak boleh dilewatkan. Foto-foto, ada yang selfie sendiri dengan gaya khas senyumnya. Ada pula yang rombongan. Macam hadiri kondangan lah, hehe. Rombongan diangkut memakai tiga bus Lemhannas, plus beberapa peserta yang bawa kendaraan pribadi.

BACA JUGA :  Desa Panggak Laut Tertata, TMMD ke-124 Membawa Harapan Baru

Setibanya di markas Kopasgat, kami langsung diarahkan ke lapangan tembak. Begitu sampai, cari kelompok masing-masing, absen, dan dapat bonus snack. Panitianya memang baik banget kalau urusan perut. Tapi ya begitu, kalau soal waktu, jangan harap ada diskon.

“Bapak dan Ibu harus saling toleransi ya dalam berbangsa,” ujar panitia.
Tapi begitu ada yang telat semenit: “Maaf, tidak ada toleransi waktu!”
Tapi ya wajar sih, namanya juga penggemblengan mental pendidik.

Permainan outbound pun dimulai dari kelompok 1 sampai 6. Semua permainan didesain buat menguji kekompakan, meruntuhkan ego, dan yang paling penting melenturkan otot berpikir yang sudah keriting akibat dijejali materi maraton selama 8 hari penuh. Keren kan Lemhannas RI.

Meskipun harus panas-panasan berjemur seharian di lapangan, semangat peserta nggak kendor. Ya, walau ada beberapa peserta undur diri dari kelompok. Ada yang kena batuk pilek. Ada yang tumbang karena kelelahan. Bahkan ada yang harus disuplai oksigen tambahan sama tim medis di pinggir lapangan. Tenang, mereka bukan pasien IGD kok, cuma charge energi sebentar.

Begitu malam tiba, suasana berubah drastis dari canda tawa menjadi sangat khidmat. Di tengah lapangan kebanggaan Baret Jingga, api unggun dinyalakan. Malam inagurasi dimulai.

Satu per satu peserta diberi kesempatan untuk maju, menghormati, dan mencium Sang Saka Merah Putih di empat sudut lapangan. Diiringi syair-syair kebangsaan yang menyentuh kalbu, tak sedikit mata yang berkaca-kaca.

BACA JUGA :  Kotim Lakukan Aksi Bela Palestina, Bertepatan Hari Pahlawan

Di momen itulah tekat kami makin bulat untuk menjaga NKRI, mengamalkan Pancasila, menegakkan UUD 1945, dan merawat Bhinneka Tunggal Ika.

Acara ini ditutup secara resmi oleh Gubernur Lemhannas RI, Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., yang ditandai dengan pelepasan tanda peserta, penyerahan sertifikat, dan penyematan PIN secara simbolis kepada:

1. Nanang Kurnia Achmadi, MMR (Poltekkes Kemenkes Jakarta II)
2. Dr. Indah Permatasari, S.H., M.H. (Universitas Warmadewa, Bali)

Pengucapan Komitmen Bersama diwakili oleh saya sendiri, Reno, S.Kom., M.I.Kom (Politeknik Muara Teweh, Kalimantan Tengah) bersama Firda Mustika Galih Pramulan, S.Pd., M.AP (BKKBN Banyumas, Jawa Tengah), lalu ditutup dengan penyerahan naskah angkatan oleh Ketua Angkatan 41, Prof. Dr. Ahalik, Ak., CPA., CA. (Institut Bisnis dan Komunikasi Swadaya Jakarta)

Dalam amanatnya, Gubernur Lemhannas berpesan agar para alumni ToT ini menjadi teladan nyata di lingkungan akademisnya masing-masing. Namun, beliau juga memberi warning keras dan bikin merinding.

“Kalau ada alumni yang keluar koridor dan melakukan perbuatan tercela, saya tidak akan segan-segan mencabut sertifikat dan PIN Lemhannas” tegas Gubernur.

Nah, ini pengingat yang sangat fundamental. PIN Lemhannas yang menempel di dada itu bukan sekadar aksesoris gaya-gayaan di kampus, tapi ada marwah bangsa yang wajib dijaga. Selain menjaga perasaan pasangan di rumah, marwah Lemhannas juga wajib dijaga rapat-rapat.

Sebagai bukti keseriusan kami, inilah 5 Poin Komitmen Bersama Alumni ToT PPNK Angkatan 41:

1. Menjunjung tinggi dan mengamalkan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari.
2. Menjadi teladan, pemimpin, dan pendidik yang berintegritas, adil, profesional, serta mengutamakan kepentingan bangsa dan negara.
3. Meningkatkan kompetensi, kewaspadaan, ketangguhan, dan ketahanan dalam menghadapi perkembangan zaman.
4. Berkontribusi aktif mewujudkan Indonesia Emas 2045 melalui pendidikan, penelitian, keteladanan, dan pengabdian.
5. Membangun jaringan kolaborasi dan sinergi antar-pendidik serta menyebarluaskan nilai-nilai kebangsaan secara berkelanjutan.

BACA JUGA :  Babinsa 1015-07/Parengean Hadiri Rapat FKP Pendataan Awal Regsosek di Desa Wonosari

Pulang dari Lemhannas, badan boleh pegal-pegal dan kulit agak gelap terkena matahari. Tapi yang jelas, dada kami makin lapang dan semangat kebangsaan kami makin membara. Terbaik, Terdepan, Agenda Perubahan. (*)


Eksplorasi konten lain dari MentayaNet

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

You cannot copy content of this page

Eksplorasi konten lain dari MentayaNet

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca