Petani sawit di Indonesia kembali menjerit akibat anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) dalam sepekan terakhir. Penurunan drastis ini dinilai mengancam daya beli dan keberlangsungan hidup petani kecil yang bergantung penuh pada hasil kebun, baik di Kalimantan maupun Sumatera.
Ali, petani asal Kotabesi, mengaku harga TBS turun dari Rp3.390 per kilogram menjadi Rp2.520 per kilogram. Hasil panennya selama ini disetorkan ke perusahaan kelapa sawit setempat.
“Beberapa hari lalu harganya masih Rp3.390, sekarang turun jadi Rp2.520. Kami sebagai petani benar-benar merasakannya,” kata Ali saat ditemui di Jalan Jenderal Sudirman KM 65, Jumat, 22 Mei 2025.
Keluhan serupa juga datang dari petani sawit di Sumatera. Di Riau dan Sumatera Utara, petani mengaku harga beli TBS di tingkat pabrik turun hingga di bawah Rp2.600 per kilogram, padahal biaya perawatan kebun dan upah buruh terus naik. Mereka menyebut penurunan ini membuat margin keuntungan nyaris hilang.
Ia mendesak pemerintah dan perusahaan segera turun tangan agar harga TBS tidak terus merosot. Menurutnya, penurunan ini memangkas pendapatan petani di tengah naiknya biaya rumah tangga, ongkos angkut, dan upah buruh panen.
Petani di wilayah Seruyan dan Sumatera juga meminta transparansi dalam penetapan harga di tingkat pabrik agar jelas faktor penyebab penurunan. Jika dibiarkan, kondisi ini dikhawatirkan mengguncang ekonomi daerah yang sangat bergantung pada sektor perkebunan sawit.
Para petani berharap pemerintah segera melakukan intervensi dan pengawasan harga agar pendapatan mereka tidak terus tergerus.
Eksplorasi konten lain dari MentayaNet
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















