Kampus tidak boleh hanya menjadi ruang belajar. Di kawasan Danau Toba, perguruan tinggi didorong menjadi pusat lahirnya SDM unggul sekaligus penggerak ekonomi rakyat lewat koperasi.
Gagasan itu mengemuka saat Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menghadiri kuliah umum bertajuk “From Campus To Future: Menyiapkan Generasi Profesional Menghadapi Transformasi Dunia Kerja”di Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli Utara (UNITA), Selasa (6/10/2026).
Ferry mendorong kolaborasi kuat antara Kementerian Koperasi, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan organisasi kemasyarakatan. Menurutnya, kampus harus terhubung langsung dengan kebutuhan ekonomi masyarakat dan potensi daerah, bukan berjalan sendiri.
Langkah ini sejalan dengan agenda Kemenkop bersama Komite Masyarakat Danau Toba (KMDT) untuk memperkuat komoditas lokal, pariwisata, dan ekonomi masyarakat melalui wadah koperasi.
Ferry melihat kampus sebagai ruang strategis menyiapkan generasi muda agar tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi pencipta kegiatan ekonomi produktif.
Karena itu, koperasi perlu dikenalkan dalam ekosistem pendidikan. Mahasiswa diposisikan sebagai motor inovasi, kewirausahaan, digitalisasi, hingga pengembangan produk masyarakat.
Model ini relevan dengan Danau Toba yang punya potensi besar di pertanian, UMKM, pariwisata, dan produk lokal seperti kopi, kacang, tenun ulos, hingga kuliner.
Dalam kunjungannya, Ferry meresmikan Kebun Praktik Pertanian Terpadu di kawasan UNITA Silangit. Fasilitas ini diarahkan menjadi ruang belajar sekaligus praktik bagi mahasiswa dan model pertanian yang bisa direplikasi masyarakat.
Salah satu komoditas yang disorot adalah bawang putih. Ferry menilai budidayanya bisa menjadi proyek percontohan yang menghubungkan pengetahuan akademik dengan kepentingan ekonomi, sekaligus mengurangi ketergantungan impor.
Wakil Bupati Tapanuli Utara Deni Parlindungan Lumbantoruan menyambut gagasan tersebut. Menurutnya, penguatan SDM harus sejalan dengan pengembangan sektor tulang punggung ekonomi Tapanuli Utara, yakni pertanian dan koperasi.
Kehadiran Menkop di UNITA dinilai menjadi momentum mempertemukan kebijakan pusat dengan kebutuhan daerah.
Rektor UNITA Meslin Silalahi berharap kunjungan tidak berhenti seremonial.
“Kampus adalah tempat kita menanam, dunia kerja adalah tempat kita memanen, masyarakat adalah tempat kita mengabdi, dan masa depan adalah tempat kita membuktikan bahwa pendidikan yang kita tempuh benar-benar memberikan makna,” ujarnya.
Ia menegaskan arah UNITA menjadikan ilmu tidak berhenti di ruang kuliah, tetapi diterapkan untuk pengembangan sektor produktif di sekitar kampus.
Ketua Umum DPP KMDT Edison Manurung menegaskan pembangunan SDM adalah agenda utama organisasinya. KMDT telah menjalankan kegiatan akademik bersama USU dan Universitas HKBP Nommensen.
“Program KMDT salah satunya adalah menciptakan SDM unggul anak bangsa. Kita bersyukur Pak Menteri bisa hadir di Sisingamangaraja ini,” ujar Edison.
Kolaborasi yang didorong Ferry membawa gagasan besar: kampus sebagai pusat pengetahuan dan inovasi, pemerintah sebagai pembuka kebijakan dan dukungan, serta koperasi sebagai penghubung produksi masyarakat dengan pembiayaan, pengolahan, dan pasar.
Model ini memungkinkan hasil pertanian tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi diolah, dikemas, dan dipasarkan melalui jaringan usaha terorganisasi. Kemenkop juga menyiapkan pendampingan, inkubasi, dan akses pembiayaan melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB).
Kawasan Danau Toba memiliki potensi ekonomi beragam, namun tantangannya adalah nilai tambah. Di sinilah perguruan tinggi menjadi titik penting.
Jika kolaborasi konsisten, UNITA berpeluang bukan sekadar institusi pendidikan, tetapi menjadi pusat pengembangan SDM dan ekonomi berbasis koperasi di Danau Toba dari ruang kuliah, menuju lahan pertanian, koperasi, dan pasar.
Eksplorasi konten lain dari MentayaNet
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










