Dalam sebuah kepemimpinan, seorang kepala pemerintahan ibarat nakhoda di atas kapal. Seberapa pun kuat sang nakhoda memegang kemudi, ia akan tetap kandas jika para pembisik dan staf di sekitarnya memberikan informasi yang salah, menutup-nutupi realitas di lapangan, dan hanya menyajikan laporan yang enak didengar.
Alih-alih mendapatkan solusi atau data yang akurat dari lingkaran terdekatnya, sang pemimpin justru harus menanggung malu dan beban moral akibat buruknya mitigasi. Di hadapan publik, pemimpinlah yang disalahkan. Sementara para pembisik bersembunyi di balik kalimat “sesuai arahan pimpinan.”
Bahaya “Asal Bapak Senang” (ABS)
Inilah bahaya terbesar dalam kekuasaan, budaya Asal Bapak Senang.
Staf atau pembisik yang tidak kompeten sering kali menyembunyikan masalah pelik demi menjaga posisi, demi mempertahankan jabatan dan kenyamanan. Mereka lebih mementingkan pencitraan ketimbang kebenaran. Mereka menyangkal ketidakmampuan dengan ucapan, “kami mampu, kami sanggup,” padahal di lapangan rakyat menjerit.
Ketika pembisik di lingkaran kekuasaan lebih mementingkan pencitraan, mengabaikan keselamatan rakyat, dan menutup mata terhadap krisis yang nyata, maka di situlah letak awal kehancuran kredibilitas seorang pemimpin.
Pemimpin yang dikelilingi pembisik ABS tidak akan pernah tahu bahwa kapalnya sudah bocor. Ia baru sadar setelah kapal itu tenggelam dan seluruh penumpangnya menjadi korban.
Ego Pemimpin , Benteng Terakhir yang Runtuh
Namun sisi lain yang lebih berbahaya, semua nasehat baik dari pembisik yang jujur pun akan runtuh saat pemimpin merasa dirinya selalu benar.
Ketika ego sudah menjadi panglima, pemimpin tidak lagi mendengar peringatan. Kritik dianggap sebagai serangan. Data yang berbeda dianggap sebagai pembangkangan. Di titik ini, pemimpin bukan lagi korban pembisik, tetapi korban dari dirinya sendiri.
Pemimpin yang egosentris akan memilih pembisik yang mengamini semua keputusannya, bukan yang berani mengatakan, “Pak, ini salah dan berbahaya.” Ia akan menyingkirkan orang-orang kompeten dan jujur, lalu menggantinya dengan orang-orang yang pandai menjilat.
Akuntabilitas Mutlak Ada di Pundak Pemimpin
Pada akhirnya, tanggung jawab tertinggi tetap berada di pundak pemimpin.
Jika salah memilih orang di ring 1, harga yang harus dibayar bukan sekadar reputasi, tetapi hilangnya kepercayaan rakyat secara permanen. Rakyat tidak akan mengingat siapa staf yang memberikan data salah. Rakyat hanya akan mengingat nama pemimpin yang gagal.
Seorang pemimpin sejati harus berani bertanya langsung ke bawah, berani mendengar kabar buruk, dan berani mengakui bahwa ia tidak selalu benar.
Karena nakhoda yang hebat bukan yang tidak pernah menghadapi badai, melainkan yang berani mendengar peringatan dari anak buahnya sebelum kapal menghantam karang.
Penutup
Kekuasaan akan selalu melahirkan pembisik. Tetapi pemimpin yang bijaklah yang menentukan, apakah pembisik itu menjadi kompas atau menjadi racun.
Jika pemimpin memilih kenyamanan dari pujian, maka ia akan jatuh bersama pujian itu. Jika ia memilih kebenaran meski pahit, maka ia akan selamat bersama rakyatnya.
Eksplorasi konten lain dari MentayaNet
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















