banner 130x650

Akhirnya Kembali ke Sampit, Menhut Raja Juli Antoni Langsung Tinjau Karhutla di Lingkar Utara Sampit

Menhut Ke Sampit
Foto: Menhut Raja Juli Antoni (tengah, memakai masker dan rompi coklat) saat meninjau lokasi karhutla di Lingkar Utara Sampit pada malam hari, didampingi Bupati Kotim H. Halikinur, Kasrem Inf Kolonel Victor, Dandim 1015/Sampit Letkol Inf Dwi Chandra, Kapolres Kotim, dan rombongan, Sabtu (18/10/2026) sekitar pukul 18.30 WIB. Foto: Istimewa / MentayaNet)

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni akhirnya kembali ke Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah , Sabtu (18/10/2026).

Menhut tiba sekitar pukul 18.30 WIB dan langsung meninjau lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Lingkar Utara Sampit pada malam hari.

Begitu tiba, Raja Juli Antoni langsung bergerak ke lokasi kebakaran di Lingkar Utara Sampit, didampingi jajaran Forkopimda dan tim gabungan penanggulangan karhutla. Ia terlihat memakai masker dan rompi lapangan sambil berdialog dengan petugas di lokasi.

Yang hadir dalam peninjauan tersebut antara lain:

– Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni

– Bupati Kotawaringin Timur H. Halikinur

– Kasrem Kolonel Inf Victor

– Dandim 1015/Sampit Letkol Inf Dwi Chandra

– Staf Ahli Menteri Kehutanan

– Kapolres Kotawaringin Timur

– Kapolsek Ketapang AKP Anis

BACA JUGA :  Diketuk Tak Menjawab, Pria 55 Tahun Ditemukan Tewas di Kamar Rumah Desa Hanjalipan

– Jajaran TNI, Polri, BPBD, dan tim gabungan penanggulangan karhutla

 “Kalimantan kita memang sedang tidak baik-baik saja. Tantangan kita masih besar karena prediksi dari BMKG bahwa hujan alami di Kalimantan Tengah baru akan ada di November,” ujar Raja Juli Antoni.

Menhut Ke sampit
Foto: Menhut Raja Juli Antoni mendapatkan penjelasan Karhutla dari Dandim 1015/Sampit Letkol Inf Dwi Chandra , di Lingkar Utara,Sabtu (18/10/2026) sekitar pukul 18.30 WIB, Foto: Istimewa / MentayaNet)

Menhut menyebut kondisi ini sebagai “dosa” bersama yang harus diakui dan ditangani serius, karena karhutla tidak hanya merusak hutan, tetapi juga mengganggu kesehatan dan ekonomi masyarakat.

MDMC Usulkan Penom 200 dan Bios 44

Dalam kunjungan tersebut, MDMC Kotim mengusulkan dua teknologi tepat guna untuk program penanganan karhutla Kemenhut:

– Penom 200: Kimia cair yang dapat mematikan api seketika, dapat diterapkan untuk kebakaran bangunan dan lokasi gambut yang berulang terbakar.

– Bios 44: Zat kimia alami yang dapat mengubah tanah gambut menjadi mineral sehingga tidak terjadi lagi karhutla di tahun-tahun depan di tempat yang sama, serta menyuburkan tanah. Bios 44 merupakan temuan Korem Batu Jajar Sumsel yang dikembangkan Kodim dan Korem, yang saat ini programnya terhenti.

BACA JUGA :  Bupati Kotim Ingin Pertanian di Desa Lempuyang Dapat Dimaksimalkan

MDMC berharap Kemenhut menghidupkan kembali program Bios 44 dan mendorong penggunaan Penom 200 secara luas di Kalimantan Tengah.


Eksplorasi konten lain dari MentayaNet

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

You cannot copy content of this page

Eksplorasi konten lain dari MentayaNet

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca