banner 130x650

Disomasi Lurah Gara-gara Siram Debu, Ibu Warung di Samuda Berontak, Jalan Rusak Bukan Karena Saya!

Samuda

Polemik aduan warga terjadi di Jalan H. Muhammad Noor RT 003/RW 001, Kelurahan Samuda Kota, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kotawaringin Timur.

Seorang pemilik warung, Ibu Norsariwati, dilaporkan ke Kelurahan setelah menyiram air di depan warungnya untuk mengurangi debu. Laporan dilayangkan oleh pemilik usaha angkutan sawit, H. Syamsudin, yang mengklaim siraman air itu membuat jalan rusak dan berlubang.

Berawal dari Laporan Pengusaha Sawit

Menindaklanjuti laporan tersebut, Kelurahan Samuda Kota menerbitkan surat panggilan kepada Ibu Norsariwati. Dalam surat itu disebutkan, berdasarkan laporan pengurus RT 003, ada warga yang menyiram air di jalan dengan alasan mengurangi debu, namun menimbulkan ketidaknyamanan bagi pengguna jalan.

Surat panggilan tersebut ditandatangani Lurah Samuda Kota, Sukarno Arif, S.Sos., dengan tembusan kepada Camat Mentaya Hilir Selatan, Kapolsek Jaya Karya, Danramil 1015/Sampit, dan Ketua RT 003.

Menindaklanjuti panggilan itu, Norsariwati bersama keluarga mendatangi Kantor Kelurahan Samuda Kota, Selasa (22/9/2026) sekitar pukul 10.00 WIB.

Kepada awak media, Norsariwati meluruskan duduk persoalan. Ia mengaku menyiram jalan karena debu tebal mengganggu warungnya.

“Awalnya saya lagi nyiram jalan di depan warung, kanan-kiri saya siram juga untuk mengurangi debu karena saya berdagang. Kemudian ditegur oleh Haji Syamsudin. Cara menegurnya tidak sopan. Nadanya tinggi, matanya melotot, teriak-teriak,” ungkapnya.

BACA JUGA :  Bupati Kotim Instruksikan Wajib Mengibarkan Bendera Mulai Awal Agustus

Menurutnya, Haji Syamsudin melarangnya menyiram terlalu basah. Saat ia hendak menjelaskan, Haji Syamsudin justru langsung pergi.

“Di hari kedua beliau menegur lagi sambil mengancam mau melaporkan saya ke Kelurahan. Beliau lewat naik motor pelan sambil teriak, ‘Masih aja nyiram di sini, sudah dikasih tahu jangan nyiram masih aja nyiram’,” bebernya.

Tanpa perundingan, laporan itu pun dilayangkan ke Kelurahan. Setelah itu, pihak Kelurahan datang ke rumahnya untuk meminta keterangan.

“Kelurahan bilang saya bikin becek dan masyarakat tidak terima. Saya tanya, masyarakat mana? Tidak ada yang mengeluh, hanya beliau saja,” tegasnya.

Jalan Rusak Bukan Karena Siraman, Tapi Truk Overload

Norsariwati membantah keras tudingan siramannya merusak jalan.

“Jalan rusak atau berlubang itu bukan karena saya siram. Saya menyiram karena jalan memang sudah rusak dan berdebu. Saya siram cuma satu kali sehari, itu pun kalau air pasang,” jelasnya.

BACA JUGA :  Haduh! Harga Gula Pasir di Sampit Meroket, Bikin Kantong Dompet Menangis

Ia justru menuding kerusakan jalan akibat truk-truk sawit milik H. Syamsudin yang bermuatan melebihi kapasitas.

“Itu ulah anak buah Haji Syamsudin sendiri yang bawa sawit dengan truk overload, operasi siang malam tidak kenal waktu. Kami punya videonya, kami punya buktinya,” ujarnya.

Upaya mediasi yang difasilitasi Kelurahan belum menemui titik temu.

“Saya bukannya tidak mau damai, tapi saya tidak terima karena cara Haji Syamsudin menegur saya dari awal tidak sopan, tidak formal, dan tidak baik. Di kantor Lurah pun beliau memojokkan saya seolah-olah saya yang salah dan merusak jalan,” pungkas Norsariwati.

Ia juga menyayangkan saat memenuhi panggilan, Lurah Samuda Kota tidak berada di tempat karena disebut berangkat ke Sampit. Selain itu, cara penyampaian surat panggilan yang dititipkan tanpa amplop kepada orang lewat juga dinilai tidak etis.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Lurah Samuda Kota maupun H. Syamsudin terkait polemik tersebut.

(Al-Jamallu)

Eksplorasi konten lain dari MentayaNet

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

You cannot copy content of this page

Eksplorasi konten lain dari MentayaNet

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca