Tim gabungan dari Bareskrim Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai berhasil membongkar laboratorium narkotika rahasia (clandestine lab) terbesar di Indonesia yang berlokasi di Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, Aceh.
Operasi penindakan yang dipimpin langsung oleh Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto pada 22 Oktober 2026 ini berhasil menyita 1,2 ton sabu, dalam bentuk cair dan kristal siap edar, dengan nilai ekonomi mencapai Rp2,16 triliun.
Pengungkapan ini merupakan hasil penyelidikan panjang jaringan internasional lintas negara yang bermula dari Tiongkok hingga ke Indonesia.
Kronologi Pengungkapan:
Februari 2026 – Deteksi Awal Jaringan
Penyelidikan dimulai saat petugas mengendus pergerakan jaringan narkotika asal Tiongkok. Mereka terpantau mengangkut ratusan kilogram metamfetamin cair dari wilayah Myanmar Utara melalui rute Laos dan Thailand.
18 Mei 2026 – Selundupan Tahap Pertama Tiba
Pasokan sabu cair gelombang pertama berhasil masuk dan tiba di tujuan akhirnya di Banda Aceh.
Mei – Juni 2026 – Kedatangan Ahli Kimia Asing
Dua warga negara Tiongkok berinisial LJ (45) dan XM (42) yang bertindak sebagai peracik utama atau koki, terbang dari Yunnan menuju Malaysia, lalu masuk ke Banda Aceh pada 24 Mei 2026. Mereka melakukan survei lokasi selama 10 hari sebelum kembali ke Malaysia.
Akhir Juli 2026 – Pengiriman Cairan Tahap Kedua
Jaringan ini kembali mengirimkan hampir 1 ton metamfetamin cair. Untuk mengelabui petugas di pelabuhan dan perbatasan, cairan kimia berbahaya ini disamarkan di dalam wadah kaleng hijau bermerek Itanpro.
22 Oktober 2026 – Penggerebekan Ruko Produksi
Setelah pemantauan intensif selama berbulan-bulan, tim gabungan langsung melakukan penggerebekan besar-besaran di sebuah deretan rumah toko (ruko) di Pidie yang disulap menjadi pabrik. Polisi menangkap para tersangka, termasuk koki asing, serta mengamankan total boks dan jerigen berisi 1,2 ton sabu cair yang sedang diproses menjadi sabu kristal.
Hingga saat ini, pihak kepolisian masih melakukan pengembangan lebih lanjut, memburu pengendali utama di luar negeri, serta menelusuri aliran dana (money laundering) dari sindikat lintas negara ini.
Pengungkapan laboratorium di Pidie ini menjadi yang terbesar sepanjang sejarah pemberantasan narkotika di Indonesia, mengingat kapasitas produksi dan nilai barang bukti yang diamankan.
Eksplorasi konten lain dari MentayaNet
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



















