Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) tetap terjaga di tengah meningkatnya tekanan perekonomian global. Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK pada 30 September 2026.
Dalam siaran pers resmi Nomor SP 185/OJK/DKPU/X/2026 yang dirilis 5 Oktober 2026, OJK menilai perekonomian global 2026 diperkirakan lebih rendah dari 2025 meski lebih baik dari proyeksi sebelumnya. Tekanan datang dari eskalasi konflik geopolitik yang mendorong harga minyak, fenomena Very Strong El Nino yang memicu kenaikan harga pangan, serta kebijakan suku bunga global higher for longer di AS, Eropa dan Jepang.
Di dalam negeri, ekonomi nasional relatif stabil dengan inflasi terjaga sesuai target pemerintah, sehingga permintaan domestik dan konsumsi tetap kuat. OECD bahkan meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 sebesar 0,5 persen.
Sementara itu Pasar saham domestik bergerak dinamis. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) per akhir September 2026 ditutup di level 6.071,14, terkoreksi 6,96% secara bulanan (mtm) dan 29,79% secara year to date (ytd). Investor asing mencatatkan _net sell_ Rp10,24 triliun di pasar saham.
Meski begitu, likuiditas pasar masih manageable dengan rata-rata bid-ask spread di 1,20% dan Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) Rp14,94 triliun.
Di pasar obligasi, ICBI terkoreksi tipis 0,23% mtm ke level 439,05. Sementara yield SBN naik rata-rata 14,12 bps seiring kenaikan imbal hasil global.
Kabar positif datang dari jumlah investor. Selama September 2026, penambahan investor baru mencapai 1,03 juta, sehingga total investor pasar modal tumbuh 57,96% ytd menjadi 32,17 juta investor.
Penghimpunan dana melalui Penawaran Umum hingga akhir September 2026 tercatat Rp186,03 triliun dari 7 IPO, 18 PUT, dan 134 penawaran EBUS. Di pipeline, masih ada 29 rencana penawaran umum senilai Rp26,47 triliun.
Perbankan Solid, Intermediasi perbankan melanjutkan tren penguatan. Pertumbuhan kredit per Agustus 2026 naik ke 13,65% yoy (Juli: 13,58%) menjadi Rp9.178 triliun.
Kredit investasi tumbuh tertinggi 25,11% yoy, disusul modal kerja 11,45% yoy, dan konsumsi 5,07% yoy. Berdasarkan debitur, kredit korporasi tumbuh 22,18% yoy, sementara UMKM tumbuh 2,32% yoy.
BNPL perbankan juga melonjak 29,10% yoy menjadi Rp31,41 triliun dengan 34 juta rekening.
Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 10,94% yoy menjadi Rp10.413 triliun. Likuiditas memadai dengan AL/NCD 102,31% dan LCR 187,1%. Kualitas kredit terjaga dengan NPL gross 2,11% dan CAR sangat kuat di 24,10%.
OJK juga mencatat telah memblokir ±38.796 rekening terindikasi judi daring berdasarkan data dari Kementerian Kominfo Digital. Pada September 2026, OJK mencabut izin usaha 2 BPR dan 1 BPRS.
Sedangjan aset industri asuransi per Agustus 2026 mencapai Rp1.200,55 triliun, naik 2,56% yoy. Industri asuransi jiwa dan umum mencatatkan RBC 471,57% dan 331,52% (di atas threshold 120%).
Aset dana pensiun tumbuh 6,99% yoy menjadi Rp1.724,14 triliun. Sementara di sektor PVML, piutang pembiayaan tumbuh 1,68% yoy menjadi Rp514,08 triliun, dan outstanding Pinjaman Daring (Pindar) tumbuh 22,07% yoy menjadi Rp106,94 triliun dengan TWP90 di 4,73%.
Industri pergadaian melonjak 44,60% yoy menjadi Rp156,61 triliun. Aset kripto juga bergairah dengan 23,21 juta akun konsumen dan transaksi Agustus 2026 sebesar Rp23,16 triliun, naik 12,87% mtm.
OJK melakukan Edukasi dan Perlindungan Konsumen. Sejak Januari hingga 30 September 2026, OJK telah menyelenggarakan 4.711 kegiatan edukasi yang menjangkau 13,3 juta peserta. OJK juga menerima 527.389 permintaan layanan melalui APPK, termasuk 82.092 pengaduan, mayoritas dari sektor fintech dan perbankan.
OJK menegaskan akan terus memperkuat pengawasan, penegakan hukum, dan kolaborasi lintas sektor untuk menjaga resiliensi industri jasa keuangan yang sehat dan berkelanjutan.
Eksplorasi konten lain dari MentayaNet
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















