SAMPIT – Wakil Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Riskon Fabiansyah, mengingatkan peserta didik agar menjauhi pergaulan bebas dan bijak memanfaatkan teknologi di tengah meningkatnya kasus HIV/AIDS di Kalimantan Tengah. Pesan tersebut disampaikannya saat menjadi pembina upacara bendera di SMK Negeri 4 Sampit, Senin (3/8/2026).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah tahun 2026, tercatat 176 kasus baru HIV dari 20.703 orang yang telah menjalani pemeriksaan. Dari jumlah tersebut, 120 orang atau sekitar 68,18 persen telah memulai terapi Antiretroviral (ART). Kota Palangka Raya menjadi penyumbang kasus tertinggi, disusul Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kabupaten Kotawaringin Barat.
Di hadapan seluruh peserta upacara, Riskon mengatakan bahwa berdasarkan data tahun 2025, Kotawaringin Timur menempati peringkat kedua kasus HIV/AIDS terbanyak di Kalimantan Tengah setelah Kota Palangka Raya. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan fenomena gunung es karena kasus yang terungkap diyakini belum menggambarkan kondisi sebenarnya.
“Data tahun 2025 menunjukkan Kabupaten Kotawaringin Timur menempati peringkat kedua kasus HIV/AIDS terbanyak di Kalimantan Tengah setelah Palangka Raya. Ini seperti fenomena gunung es. Yang terlihat di permukaan hanya sebagian kecil, sementara potensi kasus sebenarnya bisa lebih banyak,” ujarnya.

Ia menjelaskan, meningkatnya jumlah kasus yang ditemukan juga dipengaruhi semakin gencarnya pelacakan dan pemeriksaan yang dilakukan tenaga kesehatan.
“Semakin gencar Dinas Kesehatan melakukan pelacakan dan pemeriksaan, maka akan semakin banyak pula kasus yang berhasil ditemukan. Ini menjadi dasar agar semua pihak semakin serius melakukan upaya pencegahan,” katanya.
Menurut Riskon, tantangan berikutnya adalah meningkatkan kesadaran masyarakat yang telah terindikasi positif agar bersedia menjalani pengobatan secara rutin di fasilitas kesehatan.
“Tantangan kita saat ini bukan hanya menemukan kasus, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat yang terindikasi positif agar mau menjalani pengobatan secara berkelanjutan di fasilitas kesehatan,” tuturnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa terdapat beberapa peserta didik yang masuk kategori suspek positif HIV. Namun, data tersebut tidak dapat dipublikasikan karena berkaitan dengan kerahasiaan pasien.
“Untuk kalangan pelajar memang ada beberapa yang masuk kategori suspek positif, tetapi datanya tidak bisa kami buka. Salah satu penyebabnya adalah rasa ingin tahu yang berlebihan, kemudahan mengakses informasi melalui gadget, serta pengaruh lingkungan pergaulan,” ungkapnya.
Riskon menegaskan bahwa dunia pendidikan harus menjadi benteng utama dalam memberikan edukasi kepada generasi muda agar memahami bahaya perilaku berisiko.
“Dunia pendidikan harus menjadi benteng utama. Sekolah harus membekali peserta didik dengan pengetahuan yang benar, bahwa ada hal-hal yang cukup diketahui, tetapi tidak untuk dipraktikkan,” tegasnya.
Selain menyoroti persoalan kesehatan, Riskon juga mengingatkan pentingnya memastikan seluruh anak tetap memperoleh hak pendidikan.
“Kalau sekarang masih ada anak yang putus sekolah karena alasan biaya, rasanya sudah tidak masuk akal. Pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, sekolah, hingga komite telah menyiapkan berbagai program bantuan agar tidak ada lagi anak yang kehilangan hak memperoleh pendidikan,” pungkasnya.
Melalui amanat tersebut, Riskon berharap peserta didik SMK Negeri 4 Sampit mampu menjaga diri dari pengaruh negatif pergaulan, memanfaatkan teknologi secara bijak, serta fokus belajar demi mewujudkan generasi yang sehat, berkarakter, dan berprestasi.
Eksplorasi konten lain dari MentayaNet
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















