Pilgub Kalteng direncanakan 2029, tapi sekarang mulai ada aroma kampanye terselubung, bahasa kerennya sosialisasi bertahap, sampai waktunya full gas.
Bagi para kandidat yang bakal bertarung perlu persiapan matang, harus cerdas berhitung, mengukur kemampuan sendiri dan rival.
Apalagi sekarang belum ada kepastian apakah Pilkada Kepala Daerah masih memakai aturan langsung oleh rakyat atau ada perubahan sistem. Hal ini menjadi tanda tanya besar bagi semua kandidat.
Prabowo Condong PILKADA Lewat DPRD
Presiden Prabowo Subianto cenderung mendorong pemilihan kepala daerah lewat DPRD. Wacana ini pertama kali disinggung Prabowo saat HUT ke-60 Partai Golkar di Sentul, Bogor (12/12/2024) dan kembali ditegaskan di HUT ke-61 Golkar di Istora Senayan (5/12/2025).
Alasannya klasik, biaya Pilkada langsung terlalu mahal dan menjadi sumber korupsi.
“Demokratis tapi jangan buang-buang uang. Kalau sudah sekali memilih DPRD kabupaten, DPRD provinsi, ya kenapa enggak langsung saja pilih gubernurnya dan bupatinya, selesai,” ujar Prabowo.
Presiden juga mencontohkan negara seperti Malaysia, India, Inggris, Kanada, dan Australia memakai sistem politik yang murah. Menurut Prabowo, politik mahal berpotensi membuat demokrasi hanya dikuasai pemilik modal.
Wacana ini mendapat dukungan dari Mendagri Tito Karnavian, Partai Golkar, Gerindra, PAN, PKB, Nasdem, dan kini Demokrat yang menyatakan sejalan dengan Presiden. Mereka menilai UUD 1945 menyebut kepala daerah dipilih secara demokratis, yang bisa dimaknai demokrasi langsung maupun perwakilan lewat DPRD. Namun PDI-P hingga kini tegas menolak.
Mengingat belum ada kepastian dan masih dibahas oleh lembaga eksekutif dan legislatif di tingkat pusat, peta Pilgub Kalteng 2029 masih cair. Jika lewat DPRD, kandidat hanya perlu melobby Parpol agar dapat dukungan, lebih ekonomis, efektif dan praktis. Jika tetap langsung, butuh logistik dan kerja akar rumput ekstra.
Terlepas dari sistemnya, tidak ada salahnya para kandidat yang merasa mampu mulai mempersiapkan diri agar bisa keluar sebagai pemenang orang Nomor 1-2 di Kalteng.
Dari hasil masukan yang diterima FORUM WARGA KALTENG SE-JABODETABEK lewat berbagai saluran dan ada tim khusus yang turun ke lapangan, ada beda nuansa kebatinan antara Pilgub 2024 dan 2029.
“Harapan rakyat Kalteng di Pilgub 2029 akan terpilih Gubernur-Wakil Gubernur yang terbaik dari yang terbaik secara demokratis. Bersatu kita menang, kita bersaudara dibawah filosofi HUMA BETANG, semoga,” kata H. Masliansyah kepada MentayaNet.
Inilah 6 Poros Yang Mengemuka di Kalteng:
1. AGUSTIAR SABRAN – WIYATNO
Petahana, kekuatan politik teruji. Paling siap jika sistem DPRD berlaku karena penguasaan partai.
2. FAIRID NAPARIN – M. SYAUQY
Kombinasi pemimpin Kota dan tokoh muda, kuat di suara langsung milenial.
3. SHALAHUDDIN – ERLIN HARDI
Duet birokrat senior dan mantan kepala daerah, teknokrat ahli penganggaran.
4. PERDIE M. YOSEPH – SIGIT K. YUNIANT0
Poros kejutan. Mantan Bupati Murung Raya + mantan Ketua DPRD Kota yang kini anggota DPR RI Fraksi PDI-P.
5. JAYA S. MONONG – RAHMANTO MUHIDIN
Kekuatan akar rumput Gunung Mas dan Murung Raya, paham pedalaman.
6. YULISTIRA IVO SUGIANTO SABRAN – SUPIAN HADI (SHD)
Duet figur perempuan nasional + mantan Bupati Kotim 2 periode. Poros inklusif dengan basis massa besar Kotim-Palangka Raya.
Eksplorasi konten lain dari MentayaNet
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















