banner 130x650

Wakil Bupati Kotim Menangis Kecewa Rombongan Kementerian Kehutanan Tak Temui Relawan, Padahal 3 Relawan Sudah Gugur

Wakil Bupati Kotim

Rekaman telepon Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Irawati dengan Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar Lembaga Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Fahrizal Fitri, S.Hut., M.P viral di media sosial dan memicu simpati publik.

Dalam rekaman berdurasi tersebut, Wabup Irawati terdengar menangis dan menyampaikan kekecewaannya. Ia menyebut jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kotim bersama para relawan Karhutla telah menunggu rombongan Kemenhut di pinggir Jalan Jaksa, Sampit hingga larut malam.

Bahkan, makanan telah disiapkan di pinggir jalan untuk menyambut rombongan yang baru saja melakukan rapat koordinasi di Pangkalan Bun.

“Kami nunggu di pinggir jalan, pian kada singgah. Kami sudah siapkan makan di pinggir jalan, Jalan Jaksa. Saya dengan Forkopimda, dengan relawan. Kami tidak ditemui Forkopimda tapi relawan kami ditemuilah,” ujar Irawati dengan suara bergetar menahan tangis.

Kekecewaan Irawati memuncak karena perjuangan relawan di Kotim yang telah sampai pada titik pengorbanan nyawa. Ia mengungkapkan sudah ada tiga relawan yang meninggal dunia dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang tak kunjung padam.

“Kami juga Pak yang perlu diperhatikan. Tiga orang yang meninggal relawan kami Pak. Kami perlu bantuan Pak, karena memang tidak bisa lagi, kami sudah mengorbankan relawan kami, api terus meluas,” ucapnya.

Irawati menjelaskan, pada malam sebelumnya ia bersama Forkopimda masih berjibaku dengan api hingga pukul dua dini hari. Harapannya, kehadiran rombongan pusat bisa memberikan dukungan moril, menemui relawan, dan melihat langsung kondisi lapangan yang sudah sangat parah, bukan hanya lewat begitu saja.

BACA JUGA :  Bupati Kotim : Tidak Ada Larangan Warga Rayakan Tahun Baru

“Kami ini kalau sampaikan ke beliau Pak, saya kecewa sekali Pak. Tadi malam kami sampai jam dua masih berjibaku dengan api. Kami tidak apa-apa tidak ditemui Forkopimda, tapi temui relawan kami, temui masyarakat kami,” tegasnya.

Diketahui rombongan Kemenhut setelah dari Pangkalan Bun langsung kembali ke Palangka Raya untuk agenda bersama Menteri Koordinator pada hari Jumat, tanpa singgah lama di Sampit yang saat itu diselimuti kabut asap tebal.

Video yang menampilkan visual api membara, konvoi mobil rombongan di tengah asap pekat, dan perjuangan relawan itu langsung viral. Kalimat warga “Sedih Ulun, Wabup Kami Za Kada Diherani, Apalagi Kami Warga Biasa” pun bermunculan di kolom komentar sebagai bentuk kekecewaan.

Peristiwa ini kembali memunculkan desakan agar Pemerintah Pusat segera menetapkan status Darurat Nasional Karhutla untuk Kalimantan, mengingat pemerintah daerah dan relawan di lapangan sudah kewalahan dan membutuhkan bantuan skala nasional, mulai dari water bombing hingga dukungan logistik dan kesehatan.

BACA JUGA :  PT Agro Bukit Gelar Stakeholders Meeting, Perkuat Sinergi Investasi, Pertanian dan Konservasi

Sebelumnya Kekecewaan juga datang dari masyarakat. Ketua Komunitas Peduli Kotim Audy Valent mengatakan warga sangat kecewa.

“Tidak hanya Pemda Kotim, masyarakat Kotim juga sangat kecewa. Menteri Kehutanan hanya datang makan dan tidur di hotel terus langsung berangkat ke Pangkalan Bun, bukannya melihat apa yang dirasakan oleh masyarakat Kotim yang sedang terkena bencana dengan kabut asap yang semakin hari semakin pekat akibat Karhutla,” kata Audy.

“Seharusnya memberikan solusi bagaimana menanggulangi bencana alam ini,” tegasnya.

Lebih lanjut Audy menyatakan dukungannya terhadap wacana Presiden RI untuk berkantor di Kalimantan Tengah saat penanganan Karhutla.

“Kami sangat mendukung permintaan Presiden untuk berkantor di Kalteng. Tak perlu lagi ajak menterinya kalau kerjanya seperti ini. Lebih baik Presiden langsung turun melihat penderitaan rakyat akibat kabut asap,” pungkas Audy.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari Kementerian Kehutanan terkait peristiwa tersebut.


Eksplorasi konten lain dari MentayaNet

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

You cannot copy content of this page

Eksplorasi konten lain dari MentayaNet

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca