Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Tengah kian parah dan mulai mengganggu tiga sektor vital yakni kesehatan, transportasi udara, hingga perjalanan darat.
Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto, Rabu (23/9/2026), asap tebal di Kalteng dan Kalbar bahkan mengganggu operasi udara penanganan karhutla sendiri karena Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum bisa maksimal.
Penerbangan Lumpuh di Tjilik Riwut
Dampak paling terasa ada di udara. Bandara H. Asan dan Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya ditutup untuk sementara, jarak pandang anjlok hingga 350 meter pada Sabtu (19/9/2026).
Akibatnya, sedikitnya 10 penerbangan batal dan 5 pesawat yang hendak mendarat terpaksa melakukan divert dan Return to Base (RTB) ke Banjarmasin dan bandara asal setelah berputar-putar di udara (holding).
Otoritas Bandara Wilayah VII mencatat Kalteng menjadi penyumbang gangguan penerbangan terbesar di Kalimantan dengan 88 dari 147 penerbangan terganggu.
Kesehatan Masuk Kategori Berbahaya
Kualitas udara juga memburuk. Data ISPU Kementerian LHK dan BPBD Palangka Raya menunjukkan konsentrasi PM2.5 di wilayah Gunung Mas, Murung Raya, Kotawaringin Timur dan Kapuas sudah masuk kategori berbahaya.
Warga diimbau membatasi aktivitas di luar rumah, wajib menggunakan masker N95, dan waspada terhadap gejala ISPA, iritasi mata, dan sesak napas terutama pada anak-anak dan lansia.
Jalur Darat Masih Normal Tapi Jarak Pandang Pendek
Sementara itu Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto memastikan aktivitas masyarakat di darat seperti lalu lintas, pertokoan dan rumah makan masih berjalan normal.
Namun pengendara di ruas Palangka Raya – Pulang Pisau – Kapuas diminta ekstra hati-hati karena jarak pandang di beberapa titik turun di bawah 1 kilometer.
Hotspot Tertinggi Nasional
Data Kemenhut per Selasa (22/9) pukul 21.20 WIB menunjukkan Kalteng masih menjadi penyumbang hotspot tertinggi nasional dengan 643 titik, naik tajam dari 228 titik sehari sebelumnya.
Saat ini pemerintah mengerahkan 4.686 personel gabungan TNI-Polri-Manggala Agni di darat, 6 helikopter water bombing, dan 2 pesawat patroli. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dijadwalkan 20-29 September untuk memancing hujan buatan.
Eksplorasi konten lain dari MentayaNet
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.















