Perjalanan pengabdian Prof. Dr. H. Budi Suryanto, S.H., M.H.,M.Si. di lingkungan organisasi keagamaan memasuki babak baru. Ia mendapat amanah sebagai Anggota Mustafad Idarah Wustha Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) Provinsi Jawa Barat masa khidmat 2026–2031.
Amanah tersebut tercantum dalam SK Idarah Aliyyah JATMAN Nomor http://196.SK-JATMAN.I-A.1-A.01.06.2026 yang ditetapkan di Jakarta pada 17 Juni 2026, setelah Musyawarah Idarah Wustha di Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon, 3 Mei 2026.
Bagi Prof. Budi, amanah ini bukan sekadar jabatan, melainkan perjalanan panjang pengabdian yang telah dimulai sejak 1999.
Lebih Dari Dua Dekade Mengabdi
Kiprahnya di organisasi keagamaan tak perlu diragukan. Di PCNU Kota Bekasi, ia mengawali sebagai Wakil Bendahara (1999-2004), kemudian Wakil Tanfidziyah (2004-2009 & 2009-2014), dan Mustasyar PCNU (2014-2019 & 2019-2024).
Di tingkat PBNU Pusat, ia tercatat sebagai Pengurus LPPNU dan Wakaf (2009-2019). Sementara di JATMAN Jawa Barat, sejak 2025 ia mengemban amanah sebagai Penasihat/Mustafad.
“Saya memandang ini pertama-tama sebagai amanah, bukan sebagai sebuah jabatan dalam pengertian kedudukan semata,” ujar Prof. Budi saat diwawancarai awak media, Minggu (3/10/2026).
“Ketika seseorang dipercaya berada dalam organisasi keagamaan, ada tanggung jawab moral yang melekat. Kita tidak hanya bicara struktur, tetapi bagaimana nilai-nilai perjuangan organisasi itu terus dijaga dan diwariskan,” tegasnya.
Ajak Generasi Muda Berdialog, Bukan Diceramahi
Prof. Budi menilai, perubahan sosial dan derasnya arus teknologi justru semakin menegaskan pentingnya nilai keagamaan dan moral.
Menurutnya, tradisi dan kemajuan tidak boleh dipertentangkan. Nilai luhur tetap jadi pegangan, namun cara menyampaikannya harus menyesuaikan zaman.
“Generasi muda harus diajak berdialog, bukan sekadar diberi ceramah,” tegasnya.
Ia pun memberikan perhatian khusus pada keberadaan Lajnah GEMMATAN (Generasi Muda & Mahasiswa Ahli Thariqah). Baginya, generasi muda tidak boleh hanya jadi objek kegiatan, tapi harus diberi ruang untuk belajar, berdiskusi, dan mengambil tanggung jawab agar kaderisasi berjalan sejak dini.
Jangan Kuat di Administrasi, Lemah di Implementasi
Dalam kepengurusan JATMAN Jabar 2026-2031 terdapat sejumlah bidang, mulai dari dakwah tasawuf, penelitian turats, kaderisasi, hingga perempuan Ahli Thariqah. Prof. Budi mengingatkan, pembagian bidang yang luas itu harus berujung pada kerja nyata.
“Jangan sampai organisasi hanya kuat secara administratif, tetapi lemah dalam implementasi,” katanya.
Ia juga menekankan, nilai-nilai tasawuf tidak boleh berhenti pada pengalaman spiritual individual, tetapi harus tercermin dalam kehidupan sosial melalui kepedulian, kejujuran, dan kesederhanaan.
Empat Tantangan Besar JATMAN
Untuk masa khidmat 2026-2031, Prof. Budi melihat ada empat tantangan besar yang harus dijawab organisasi keagamaan:
1. Kaderisasi: Menyiapkan generasi penerus yang berkelanjutan.
2. Literasi Digital: Mampu menyaring informasi di tengah gempuran platform digital.
3. Pemeliharaan Tradisi Keilmuan: Modernisasi tidak boleh membuat organisasi kehilangan akar tradisi.
4. Kemaslahatan Sosial: Nilai keagamaan harus memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.
Untuk itu, sinergi dengan lembaga pendidikan, pemerintah, dunia usaha, dan media menjadi kunci.
“Prinsip saya sederhana: jabatan boleh berganti, tetapi pengabdian harus terus berjalan. Ilmu tanpa akhlak dapat kehilangan arah. Teknologi tanpa nilai juga dapat kehilangan kendali,” pungkasnya.
Eksplorasi konten lain dari MentayaNet
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.















