banner 130x650

Pengembangan Bandara H Asan Sampit Stag, Kemenhub RI Belum Memberi Keputusan

Sampit
Photo : Asisten I Setda Kotim - Rihel

Pengembangan Bandara H Asan Sampit di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menunggu keputusan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI.

“Tanahnya sudah siap tinggal serah terima. Kalau perpanjangan segala macam tergantung Kemenhub apakah Bandara H Asan Sampit masuk Rensta Renja mereka,” kata Asisten I Sekretariat Daerah (Setda) Kotawaringin Timur (Kotim) pada Kamis, 06 Juni 2024.

Diketahui Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotim telah menyiapkan hibah tanah untuk pengembangan Bandara H Asan Sampit. Adapun lahan yang telah dibebaskan seluas 8,3 hektare namun yang disiapkan untuk hibah ke Kemenhub seluas 5 hektare.

Hibah tanah seluas 5 hektare tersebut dinilai cukup untuk pengembangan Bandara H Asan Sampit. Adapun pengembangan bandara tersebut akan memperpanjang landasan pacu yang semula 2.060 meter menjadi 2.260 meter dan pelebaran 30 meter menjadi 45 meter.

BACA JUGA :  Dinkes Kotim Telah Mengerahkan Posko Keliling Untuk Korban Banjir

Lanjutnya, penyerahan hibah tanah kepada Kemenhub nantinya akan dilaksanakan oleh Bupati Kotim Halikinnor. Namun dirinya belum dapat memastikan jadwal penyerahannya.

“Tinggal apakah ada atau tidak keinginan mereka untuk memperpanjang landasan. Yang kita harapkan keinginan kita gayung bersambut,” katanya.

Lanjutnya, hingga saat ini belum ada perkembangan terkini dari Kemenhub RI terkait pengembangan Bandara H Asan Sampit. Namun Rihel berharap, setelah hibah tanah diserahkan ada keseriusan dengan memindahkan gedung PKP-PK.

Pemindahan gedung PKP-PK masuk dalam salah satu rencana pengembangan Bandara H Asan Sampit karena berpotensi dapat mengganggu manuver pesawat jika tetap dibiarkan di lokasi saat ini.

BACA JUGA :  Janji Dusta, Perbaikan Jalan Lingkar Selatan Dari Pemprov Belum Ada Hilal !

Pengembangan Bandara H Asan Sampit dinilai sangat penting agar pesawat berbadan besar jenis Airbus bisa mendarat.

Karena selama ini, keterbatasan penerbangan di Sampit disebabkan keterbatasan airline jenis Boeing dan ATR-72 dimana 2 jenis pesawat tersebut yang hanya mampu mendarat di Bandara H Asan Sampit.

Rihel berharap, pengembangan Bandara H Asan Sampit segera ditindaklanjuti Kementerian Perhubungan. Karena pendaratan pesawat besar di Sampit dipercaya dapat menekan harga tiket yang melambung tinggi.

Sehingga masyarakat tidak perlu lagi ke Pangkalan Bun atau Palangka Raya untuk mendapat layanan penerbangan yang terjangkau.

1135x1600

You cannot copy content of this page

Eksplorasi konten lain dari MentayaNet

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca